Skripsi ” Fungsi Lumbung Pangan Dalam meningkatkan Ketahanan Pangan Petani Padi lahan Kering (Studi kasus di kelompok tani Sri Kuning di Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan) ”

TAUFIQURRAHMAN (0910440205). Fungsi Lumbung Pangan Dalam meningkatkan Ketahanan Pangan Petani Padi lahan Kering (Studi kasus di kelompok tani Sri Kuning di Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan). Dibawah bimbingan Prof. Dr.Ir. Keppi Sukesi, MS dan Prof. Dr.Ir.Kliwon Hidayat, MS.

Pangan merupakan salah satu hak asasi individu dan sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas. Pemerintah dan masyarakat mempunyai kewajiban untuk membangun ketahanan pangan dalam upaya menjaga ketersediaan pangan. Untuk menjamin pemenuhan kebutuhan konsumsi penduduk secara fisik maupun ekonomi, diperlukan pengelolaan cadangan pangan di seluruh komponen masyarakat. Salah satunya dengan menumbuhkan sekaligus memelihara tradisi masyarakat secara perorangan maupun kelompok untuk menyisihkan sebagian hasil panen sebagai cadangan pangan dengan membangun lumbung pangan. Maka untuk mengantisipasi kelangkaan pangan, Pada tahun 2009 pemerintah melalui menteri pertanian mengeluarkan suatu peraturan tentang “Petunjuk Teknis Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus Bidang Pertanian Tahun 2010”. Petunjuk Teknis DAK bidang pertanian ini sebagai acuan dalam penyusunan RKA/DPA APBD kabupaten dalam menyediakan prasarana penyuluhan ditingkat kecamatan, pengadaan infrastruktur lahan dan air di tingkat usahatani serta  prasarana lumbung pangan. Dari permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji dan menganalisis proses penbentukan lumbung pangan serta peningkatan ketahanan pangan setelah adanya bantuan lumbung pangan dilihar dari aspek ketersediaan dan stabilitas pangan di kelompok tani Sri kuning yang berada di Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan yang mendapatkan bantuan lumbung pangan pada tahun 2010.

Penentuan lokasi penelitian tersebut dilakukan secara sengaja atau purposive

di Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan yang difokuskan pada kelompok tani Sri Kuning. Kelompok tani Sri Kuning merupakan kelompok yang mendapatkan bantuan lumbung pangan pada tahun 2010. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan dat sekunder.  Data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan Petani mengenai jumlah produksi dan konsumsi keluarga anggota kelompok tani dan proses pembentukan kumbung pangan di kelompok tersebut. Sedangkan data sekunder diperoleh dari lembaga terkait misalnya: kantor desa dan kelompok tani sri Kuning, serta lembaga terkait lainnya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah anggota kelompok tani Sri Kuning yang berjumlah 40 orang. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif dan kualitatif,  metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui ketersediaan pangan yang dilihat melalui penghitungan jumlah produksi dan konsumsi rumah tangga yang untuk mengetahui rasio ketersediaan pangan setiap rumah tangga, yang kemudian akan di deskripsikan dengan metode kualitatif.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di kelompok tani sri kuning diketahui bahwa lumbung pangan yang diterima oleh kelompok tani Sri Kuning ini disosialisasikan oelh petugas penyuluh pertanian yang kemudian memberikan arahan kepada kelompok tani untuk menyiapkan syarat-syarat yang diperlukan sesuai dengan ketentuan untuk bisa mengajukan untuk mendapatkan bantuan tersebut. Sehingga pada tahun 2010 kelompok tani tersebut mendapatkan bantuan beras sebanyak 2.6 ton untuk tahap pertama kemudian pada tahun 2011 mendapatkan bantuan tahap kedua yaitu bangunan lumbung dengan luas 48 m2. Lumbung tersebut dikelola oleh kelompok dan sudah memiliki kepengurusan yang dibentuk secara bersama melalui musyawarah kelompok.

Ketersediaan pangan rumah tangga anggota kelompok tani Sri Kuning sebelum adanya bantuan lumbung sebanyak 26 keluarga anggota kelompok rawan pangan dana 14 keluarga anggota kelompok tahan pangan. Namun, setelah mendapatkan pinjaman dari lumbung pangan ketahanan pangan keluarga kelompok tani mengalami peningkatan. Hal tersebut ditunjukkan oleh meningkatnya rumah tangga Petani yang mengalami surplus dengan adanya bantuan tersebut menjadi 11 keluarga anggota rawan pangan dan 29 keluarga anggota tahan pangan. Fenomena dilapang menunjukkan bahwa jumlah anggota rumah tangga yang kecil belum tentu tahan pangan, sebaliknya rumah tangga yang memiliki banyak anggota rumah tangga belum tentu tidak tahan pangan. Jumlah anggota rumah tangga memiliki hubungan positif dengan luas lahan garapan Petani. Semakin banyak anggota rumah tangga petani, maka akan semakin banyak kebutuhan pangan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut. Lahan yang digarap oleh Petani berpengaruh terhadap persediaan cadangan pangan di setiap rumah tangga petani.

Dilihat dari stabilitas pangan, keluarga anggota kelompok tani masih tergolong ke dalam kategori yang stabil. Hal ini dilihat dengan menggunakan frekuensi makan keluarga sebagai indikator stabilitas pangan keluarga anggota kelompok tani. Salah satu hal yang dilakukan oleh masyarakat untuk menjaga ketersediaan pangannya adalah dengan mengkombinasikan bahan pangan lain dengan beras seperti jagung, ketela pohon. Pengkombinasian tersebut dapat menghemat beras sebanyak 25 persen dari penggunaan semula atau sebelum dikombinasikan dengan jagung atau ketela pohon.

Taufiqurrahman (0910440205). Function food barns in increasing food security rice dry fields farm ( Case study in Sri Kuning farm group, Polagan Village, Galis District, Pamekasan Regency ). Under theguidances of Prof.Dr.Ir.Keppi Sukesi, Ms and Prof Dr.Ir.Kliwon Hidayat, Ms

Food is one of individual rights and the basic components to achieve quality human resources. Government and society have an obligation to build food security in an effort to maintain the availability of food. To ensure the consumption needs physical and economic population, required the management of food reserves in the entire community. One of them with a growing community while maintaining the tradition of individuals and groups to set aside some of the crops as food reserves by building barns. So in anticipation of food shortages, in 2009 the government through the Minister of Agriculture issued a regulation on “Technical Guidelines for the Utilization of the Special Allocation Fund for Agricultural Sector in 2010″. Technical Guidelines DAK agriculture as a reference in the preparation of RKA / DPA district budget to provide district level education infrastructure, provision of land and water infrastructure on the farm and barns infrastructure. Of these problems, the authors are interested in reviewing and analyzing the process penbentukan barns and improving food security after the barns help dilihar of the availability and stability of food in Sri yellow farmer groups in the village Polagan, District Galis, Pamekasan who get barns assistance food in 2010.

 

Determining the location of the research is done deliberately or purposive
Polagan village, District Galis, Pamekasan regency focused on Sri Kuning farmer group. Sri Kuning farmer groups are groups that get help barns in 2010. Data used in this study is primary data and secondary data. Primary data obtained through interviews with farmers about the amount of production and consumption and the family members of the farmer group formation process of food barm in the group. While the secondary data obtained from relevant agencies such as: the village office and Sri Kuning farmer groups, and other institutions. The sample used in this study were members of Sri Kunig farmer groups totaling 40 people. Analysis methods used in the study is a quantitative and qualitative methods, quantitative methods are used to determine the availability of food is seen by counting the number of production and consumption of households to determine the ratio of food availability, which will then be described by qualitative methods.

 

From the research that has been conducted in Sri Kuning farmer groups is known that barns received by farmer groups enumerated by Sri Kuning socialized agriculture extension officers who then provide direction to the farmer groups to prepare the necessary requirements in accordance with the provisions to be applied for such assistance. So in 2010 the farmer groups get help as much as 2.6 tons of rice for the first phase and then in 2011 the second phase of assistance barn building with an area of ​​48 m2. The barn is managed by the group and already have established stewardship secar together through group discussion.

 

Household food availability Sri kuning farmer group members before the barn help as many as 26 family members of 14 fund families food insecure group members hold food. However, after getting a loan from a family food security barns farmer groups have increased. This is shown by the increasing farmer household surplus with this aid to 11 families food insecure and food secure 29 family members. In reality shows that the number of household members who do not necessarily hold little food, otherwise households with many members of the household may or may not hold food. Household size has a positive relationship with acreage farmers. More and more members of peasant households, the more necessary food needs for meet the needs of the family. fill land by farmers affect the supply of food reserves in each household.

 

From the stability of the food, the family members of farmer groups still belong to the stable category. This is seen by using the frequency of family meals as an indicator of food stability family members of farmer groups. One of the things done by the community to maintain the availability of their food is to combine rice with other foods such as maize, cassava. Combine the rice can save as much as 25 percent of its original use or before combined with corn or cassava

This entry was posted in PUSTAKA, Skripsi FPUB. Bookmark the permalink.